Minggu, 20 Oktober 2013

Never Give Up, Harapan itu masih ada!



Never Give Up, Harapan itu masih ada!
Bukan perpisahan yang ku tangisi, tapi pertemuanlah yang kusesali, itulah kata para pujangga yang sering dikutip oleh para remaja yang lagi patah hati. Patah hati memang sakit rasanya karena cinta bertepuk sebelah tangan. Itu bukan hanya terjadi untuk para ikhwan, para akhwat pun mengalaminya, biasanya kalau melihat si doi dambaan hati belahan jantung sudah mendapat kembang yang lain. Kekasih yang telah dielu-elukan kini telah tertambat kelain hati, hancur, remuk, redam rasanya. Ah, hati siapa yang tak berduka melihat janur kuning melengkung di rumah wanita lain, dan sang arjuna bersanding dipelaminan dengan gadis lain.
Don’t worry be happy! Cinta yang bertepuk sebelah tangan adalah kenyataan hidup, sunnatullah. Tak perlu patah hati apalagi sampai bunuh diri, naudzubillahi min dzalik
Meratapi nasib terlalu lama tiada guna, apalagi sampai putus asa, jelas itu akan menghadirkan dosa, telaahlah motivasi yang deberikan Allah melalui firmanNya:
“... janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yangkafir.” (Yusuf :87)
Dari pada susah lebih baik kita bergembira, tak perlu sedu sedan itu, jangan menatap hati yang berkeping-keping, sebaiknya kita menata diri, memantaskan diri untuk mendapatkan yang lebih baik dari si dia, mengkerenkan diri dengan lebih dekat denganNya, dan membangun kembali harapan yang masih ada. Selalu ada kebaikan setelah penderitaan, akan datang yang halal setelah yang haram. Maka simaklah ayat inspirator berikut ini, yakinilah dengan keimanan yang kuat, sehingga ditegaskan dengan pengulangan sampai dua kali dalam FirmanNya:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyirah:5-6)
Bagaimana perasaan anda sekarang saudara, perjuangan membutuhkan pengorbanan. Yups, ditolak sebenarnya cara lain yang Allah berikan kepada kita untuk bahagia, kebahagiaan tidak ditentukan semata oleh kehadiran seseorang, tetapi dengan cara kita menerima kehadirannya dengan tulus.
Ah, jadi teringat kisah perjuangan sang ayah yang begitu mencintai putrinya, ayah yang begitu kesatria dan bijaksana, sesosok ayah yang penuh kasih sayang dan perhatian kepada putrinya, seorang ayah yang langkah kakinya saja membuat syaitan gemetar ketakutan dengan keimanannya, ia sedang mencarikan jodoh untuk putri tercinta. Dengan gigih ia memperjuangkan cinta putrinya, ia menawarkan putrinya kepada orang-orang yang tidak diragukan lagi keshalehannya, orang-orang yang sudah berulang kali teruji keimanannya.
 Adalah hafsah binti umar yang sedang menjanda karena ditinggal pergi menghadap tuhanNya oleh suami yang taat ibadahnya, seorang sahabat Nabi saw. Yang shaleh. Itulah dia Khunais bin Hadzafah as-Sahmi. Ia wafat dimadinah. Setelah kepergian sang menantu. Umar bin khattab dengan semangatnya yang gigih, perjuangannya yang keras mencarikan jodoh buat hafsah. Orang tua yang pantang menyerah itu menemui ustman bin Affan. Umar pun menawarkan anaknya kepada sahabat yang yang mulia ini agar menikahi putrinya. Usman termenung sejenak. Ia tidak terlalu terburu-buru untuk mengambil keputusan, akhirnya ia menjawab “ Akan aku pikirkan terlebih dahulu”.
Umar dengan sabar menanti jawabannya, beberapa hari kemudian dengan hati berdebar namun penuh kemantapan, ia pun kembali menemui usman dan menanyakan jawaban atas tawarannya tersebut. “ telah aku putuskan kalau aku tidak akan menikah lagi”. Jawab usman
Ia tidak terlalu kecewa terhadap terhadap penolakan usman bin affan, ia pun tidak patah semangat untuk terus mencarikan hafsah suami yang shaleh, seorang ayah yang begitu peduli terhadap kesucian dan kehormatan anaknya. Umar melanjutkan pencariannya, ditemuilah Abu bakar As-siddiq, seorang sahabat yang tidak kalah keimanannya dari usman bin affan. Umar pun mengutaran tujuan mulianya kepada Abu Bakar, “ Kalau anda mau dan bersedia, anda akan aku nikahkan dengan hafsah binti umar.”
Abu bakar terdiam seribu bahasa, tanpa berkata apa-apa, walaupun sebercik keinginan untuk menerima tawaran sahabatnya itu ada, dipendamnya dalam-dalam, disimpannya rahasia hati itu sehingga tak ada yang tahu kecuali dia dan RabbNya.
Ya dengan sikap Abu bakar itu menyulut api amarah kepadanya. Ia lebih suka dengan sikap usman yang secara terus terang menolak tawarannya.
Ternyata perjuangan sang ayah tidak sia-sia, allah memberikan manusia yang lebih baik dari Abu Bakar dan Usman, itulah dia Rasulullah saw. Insan yang paling mulia diseluruh alam raya, yang akhlanya adalah Al-qur’an. Beliau datang melamar hafsah, hati umarpun tenang dan menkahkan hafsah dengan beliau.
Anda mungkin masih penasaran, ada apa dibalik diamnya Abu Bakar, rahasia apa yang ia pendam. Setelah pernikahan, Akhirnya abu bakar mendatangi Umar sambil berkata “Boleh jadi ketika engkau ingin menikahkan hafsah denganku, sementara aku alpa akan jawaban”.
 “ Benar aku kecewa kepadamu,” tegas umar.
Abu bakar lalu menjelaskan “aku sengaja tidak memberikan jawaban atas tawaran anda, karena aku tahu rasulullah pernah menyebut nama Hafsah. Aku tidak mau membuka rahasia rasulullah, seandainya rasulullah tidak bersedia menikahinya, niscaya aku bersedia menerima tawaran anda itu.
Itulah kisah perjuangan umar bin khattab untuk mencarikan pasangan ideal yang penuh dengan penolakan, namun sekali lagi penolakan bukanlah akhir dari segalanya, namun akan menjadi awal untuk menggapai kehidupan yangjauh lebih bahagia. Dan terbukti bahwa ia mendapatkan menantu yang terbaik diseluruh dunia ini.


Bila Cinta bertepuk sebelah tangan



Bila Cinta bertepuk sebelah tangan
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu,
 dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu jelek bagimu.
 Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan kalian tidak mengetahui
Setiap orang menginginkan cinta mereka bak gayung bersambut, pucuk dicinta ulam pun tiba. Siapa yang mau membayangkan apalagi merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan, terbayang rasa sakitnya penolakan, walau diucapkan dengan kata manis, lembut dan sopan, tetap saja sayatannya mengiris kalbu. Apalagi kalau pujaan hati sudah tertaut kelain hati, perih, pedih rasa ini.
Emang sakit rasanya ditolak sama gadis pujaan hati, terlebih lagi cinta itu telah lama menggoda dan hinggap dijiwa, telah lama bersemayam dan terpendam, telah lama berakar dan mekar lalu bersemi indah didalam hati namun ketika diungkapkan tak kunjung  pula didapati. Ironis memang, cinta tak selamanya bisa memiliki.
Para pengejar bidadari, bila hal ini terjadi padamu maka bercerminlah kepada para sahabat yang juga pernah mengalami penolakan cinta suci mereka, namun mereka tak pernah merasa berkecil hati malah menunjukkan kebesaran jiwa yang luar biasa.
Salah satunya kisah cinta sahabat Rasulullah dari Persia, Salman Al Farisi. Dalam Jalan Cinta, Salim A Fillah mengisahkan romansa cintanya. Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Namun hal itu memang indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Bayangkan bagaimana rasa cinta yang terpendam ternyata bertepuk sebelah tangan. Lalu bagaimana reaksi salma, apakah sakit hati, marah, lalu memutuskan tali silaturrahmi diantara mereka.Mari kita simak ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Luar biasa mulia hati sahabat yang satu ini, ia tahu betul cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah.
Salman memiliki dua pilihan antara Cinta dan Persaudaraan, namun ia telah membuktikan memilih persaudaraan, karena Salman tahu betul persaudaraan memiliki cinta dan kasih sayang, Ia tak kan menghempas ketenangan, ia juga tak bergemuruh memecah asa, persaudaraan akan hadir bak hembusan angin yang membawa ketenangan dan kedamaian. Saat cinta membakar qalbu yang diselimuti awan duka dalam tetes bening yang membawa luka, ia bak rembulan yang menenangkan, bak air dalam padang pasir yang melegakan, bak Oksigen dalam sesaknya Qalbu. Ya salman telah memilihnya, sebelum Allah mendatangkannya saat ia mampu tuk merangkainya menjadi indah dalam nuansa yang halal. Dalam ridha Allah Rabbul-Alamin. 
Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah. Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya.
Inilah pembuktian cinta yang luar biasa yang menggetarkan hati orang yang mendengarnya, kecintaannya kepada saudaranya yang seiman hanya semata karena Sang Pemiik Cinta yang telah membuat para nabi dan syuhada cemburu padanya. Sungguh rasa manisnya iman telah ia teguk, bukan hanya lewat perkataan namun langsung diaplikasikan lewat perbuatan. Ia tidak dendam atau merasa dikhianati malah mereka saling mengasihi
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air yang mengalir. Dikatakan kepada mereka "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman". Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya. (QS. Al-hijir  9:9)
Para pejuang, bila kita siap untuk bahagia, maka jauhlah lebih siap untuk menderita, jika tidak, bila kita mengalami kegagalan dalam bercinta akan menjadikan kita frustasi karena patah hati, defresi siap menghinggapi bahkan tidak jarang akan nekat untuk bunuh diri, memilih mati bersama orang yang dicintai. Padahal cinta yang bertepuk sebelah tangan bukanlah akhir dari kehidupan, masih banyak harapan di masa depan yang mungkin jauh lebih baik dari yang diharapkan. Igatlah, seindah-indah rencana yang kita buat, masih jauh lebih indah rencana yang Allah buatkan untuk kita. Itulah yang selalu dibilang adikku kepadaku.
Ada hal yang perlu kita pahami, setiap usaha pasti mengandung resiko ; sukses atau gagal, janganlah mudah terpukau melihat rumput tetangga yang selalu terlihat hijau, namun simaklah cerita pilu dibalik semua itu, bercerminlah pada kehidupan para sahabat-sahabat nabi yang mulia, tirulah kesabarannya, teladani setiap gerak kehidupannya.


Sambutlah Indahnya pesona pada  pandangan pertama
Katakanlah (wahai Muhammad) kepada laki-laki yang beriman:
 “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara
 kemaluan mereka,yang demikian itu lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
” Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman:
“Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka
 dan memelihara kemaluan mereka”
 (Q.S. An-Nur [24]: 30-31)

Semua berawal dari pandangan pertama, seorang pengejar bidadari yang tertarik dengan wanita cantik bermata lentik, ia menatapnya dengan seulas senyuman yang tersimpul dari wajah tampannya, ada sebuncah kekaguman saat melihat gadis yang amat elok parasnya, mewarisi kecantikan wanita-wanita titisan kleopatra yang bertubuh semampai. Berkulit putih berhati lembut, bila tersenyum ada rona merah dikedua lesung pipitnya. Itulah yang membuat seorang pemuda tampan dari kufah jatuh hati kepadanya. Ketampanannya bagai Nabi Yusuf zaman ini. Akhlaknya begitu suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Ibadahnya kuat lagi taat Ketakwaannya telah berulang kali teruji. Seorang pengejar bidadari sejati. 
Pertemuannya bermula ketika ia berkunjung ke suatu kampung dari Bani An-Nakha'. Dilihatnya seorang wanita  berparas cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran pada pandangan pertama. Tak disangka dan tak diduga asmara cintanya bak dayung bersambut ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya langsung menaruh hati. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang meminangnya dari ayahnya. Tetapi si ayah mengabarkan dengan lembut dan sopan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Gelora cinta dan asmara begitu menggebu di antara keduanya.
Wanita yang dimabuk cinta itu akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk  pemuda tampan yang shaleh, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan dirimu. Bila engkau setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku'.
Itulah ungkaan cinta yang dilukis dengan tinta warna buram menghitam. Keindahan cinta yang terpancar telah ternodai oleh niat yang tidak sejalan. membelok dari jalan cinta rabbani. Namun, ada yang indah dari kisah ini. Tatkala mendengar tawaran dari gadis cantik yang sedang mabuk kepayang oleh cinta itu
 Dijawab oleh pemuda tadi melalui utusannya, 'Aku tidak setuju dengan dua pilihan yang engkau tawarkan, "sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar." (Yunus:15)
Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.'
Ketika disampaikan pesan tadi kepada wanita itu, dia berkata, "Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu." Wanita itu pun tersadar atas khilafnya dalam perjuangan cinta yang ia lakukan. Ia sadar dan bertobat. Ia mengabdikan dirinya pada Allah dan hanya beribadah semata. Memisahkan diri dari keluarganya. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan tidak mampu memadamkan kerinduannya pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan semakin kurus menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya.
Demikianpun pemuda itu hatinya masih tertawan rasa cinta kepadanya, hingga ia seringkali berziarah ke pemakamannya, ia masih dirundung duka, lelah menangis bercucuran air mata, ia mengadukan persoalannya kepada rabbnya dan mendo'akanya. Ia terlelap di atas kuburanya. Lalu bermimpi berjumpa sua dengan kekasihnya dengan rupa dan hiasan yang sangat baik, dan paras yang jauh lebih elok. Dalam mimpi dia sempat bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah kepergianmu menghadapNya?"
Dia menjawab, "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan."  Pemuda itu bertanya, "Jika demikian, kemanakah kau menuju?" Dia jawab, "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."
Pemuda itu berkata, "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu." Dia jawab, "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah."
Si pemuda bertanya, "Kapan aku bisa melihatmu?" Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Benar, tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggalkan dunia yang fana.
Begitulah cinta, kedatangnnya tak pernah terduga untuk bertamu disetiap hati si pemuda, ketika cinta mulai datang menggoda lewat pandangan pertama, ia tak mau berlama-lama mampir dalam kubangan lumpur dosa, disambutnya pesona itu dengan cara yang paling baik yaitu mengajak si bidadari yang telah menaruh hati kepadanya untuk membuat singgasana cinta dalam indahnya pernikahan. Walaupun akhirnya lelaki itu ditolak oleh sang ayah.
Bagi wanita yang sedang didera asmara, memperjuangkan cinta baginya adalah keputusan yang sulit. Di sana dibutuhkan keberanian yang berlipat-lipat dibandingkan dengan perjuangan cinta seorang lelaki. Ada adat, tradisi, dan karakter jiwa yang harus dilawan untuk mampu mengambil keputusan besar itu: memperjuangkan cinta. Rasa malu yang dimiliki wanita dalam urusan cinta sangatlah mendalam. Oleh karena itu, Rasulullah menjelaskan bahwa kemauan seorang perempuan akan pinangan seorang lelaki adalah dengan diamnya, dalam arti tidak menolak, tanpa perlu mengiyakan dengan rangkaian kata-kata. Namun, kekuatan cinta memang dahsyat dan menggerakkan.
Awal perjuangan cinta wanita itu tampak nyata tidak indah. Memang benar ia orang yang romantis dan memiliki daya khayal yang tinggi serta kemampuan merangkai kata yang indah. Namun, semuanya berbau aroma syaitan dan nafsu. Kesucian cinta yang seharusnya ada di dalam hatinya dan mengejawantah di dalam laku juangnya ternyata tergerus oleh badai hawa nafsu.
Ya, itulah cinta laksana air dalam kehidupan, nafas dalam jiwa, semangat dalam raga, lembut dalam sutera. Ia bagaikan panas pada api, dingin pada salju, luas pada angkasa.
Cinta adalah kekuatan yg mampu, mengubah duri jadi mawar, mengubah cuka jadi anggur, mengubah sedih jadi riang, mengubah amarah jadi ramah, mengubah musibah jadi muhibah.
Demikianlah yang terjadi pada wanita itu, melalui cintanya ia semakin mendekatkan diri kepada Allah, melalui cintanya ia menghiasi dirinya dengan keshalehan, lewat cintanya ia mulai mengenakan gaun ketakwaan.
Kepadamu ukhti yang kelak akan menjadi bidadari pendamping hidup kami menjadikan pesona yang menyapa sebagai batu loncatan untuk menggapai ridhoNya. Tunjukkan itu melalui sikapmu, tutur katamu,perilakumu, hiasilah dirimu dengan rasa malu kepada tuhanmu agar senantiasa terjaga kesucianmu.

Kekasih sejatimu adalah orang yang cemburu jika engkau berbuat salah
Berbicara lantang bila engkau berlaku tidak baik
Bergembira diseyiap engkau melakukan  setiap amal utama
Bersedih jika engkau mengurangi dan tak lagi melakukannya
(Abu usman at-tajibi)