Never Give Up, Harapan itu masih ada!
Bukan perpisahan
yang ku tangisi, tapi pertemuanlah yang kusesali, itulah kata para pujangga
yang sering dikutip oleh para remaja yang lagi patah hati. Patah hati memang sakit
rasanya karena cinta bertepuk sebelah tangan. Itu bukan hanya terjadi untuk
para ikhwan, para akhwat pun mengalaminya, biasanya kalau melihat si doi
dambaan hati belahan jantung sudah mendapat kembang yang lain. Kekasih yang
telah dielu-elukan kini telah tertambat kelain hati, hancur, remuk, redam
rasanya. Ah, hati siapa yang tak berduka melihat janur kuning melengkung di
rumah wanita lain, dan sang arjuna bersanding dipelaminan dengan gadis lain.
Don’t worry be
happy! Cinta yang bertepuk sebelah tangan adalah kenyataan hidup, sunnatullah.
Tak perlu patah hati apalagi sampai bunuh diri, naudzubillahi min dzalik
Meratapi nasib
terlalu lama tiada guna, apalagi sampai putus asa, jelas itu akan menghadirkan
dosa, telaahlah motivasi yang deberikan Allah melalui firmanNya:
“... janganlah kamu berputus
asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah,
melainkan kaum yangkafir.” (Yusuf :87)
Dari pada susah
lebih baik kita bergembira, tak perlu sedu sedan itu, jangan menatap hati yang
berkeping-keping, sebaiknya kita menata diri, memantaskan diri untuk
mendapatkan yang lebih baik dari si dia, mengkerenkan diri dengan lebih dekat
denganNya, dan membangun kembali harapan yang masih ada. Selalu ada kebaikan
setelah penderitaan, akan datang yang halal setelah yang haram. Maka simaklah
ayat inspirator berikut ini, yakinilah dengan keimanan yang kuat, sehingga
ditegaskan dengan pengulangan sampai dua kali dalam FirmanNya:
“Karena sesungguhnya
sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu
ada kemudahan (Al-Insyirah:5-6)
Bagaimana perasaan
anda sekarang saudara, perjuangan membutuhkan pengorbanan. Yups, ditolak
sebenarnya cara lain yang Allah berikan kepada kita untuk bahagia, kebahagiaan
tidak ditentukan semata oleh kehadiran seseorang, tetapi dengan cara kita
menerima kehadirannya dengan tulus.
Ah, jadi teringat
kisah perjuangan sang ayah yang begitu mencintai putrinya, ayah yang begitu
kesatria dan bijaksana, sesosok ayah yang penuh kasih sayang dan perhatian
kepada putrinya, seorang ayah yang langkah kakinya saja membuat syaitan gemetar
ketakutan dengan keimanannya, ia sedang mencarikan jodoh untuk putri tercinta.
Dengan gigih ia memperjuangkan cinta putrinya, ia menawarkan putrinya kepada
orang-orang yang tidak diragukan lagi keshalehannya, orang-orang yang sudah
berulang kali teruji keimanannya.
Adalah hafsah binti umar yang sedang menjanda
karena ditinggal pergi menghadap tuhanNya oleh suami yang taat ibadahnya,
seorang sahabat Nabi saw. Yang shaleh. Itulah dia Khunais bin Hadzafah
as-Sahmi. Ia wafat dimadinah. Setelah kepergian sang menantu. Umar bin khattab
dengan semangatnya yang gigih, perjuangannya yang keras mencarikan jodoh buat
hafsah. Orang tua yang pantang menyerah itu menemui ustman bin Affan. Umar pun
menawarkan anaknya kepada sahabat yang yang mulia ini agar menikahi putrinya.
Usman termenung sejenak. Ia tidak terlalu terburu-buru untuk mengambil keputusan,
akhirnya ia menjawab “ Akan aku pikirkan terlebih dahulu”.
Umar dengan sabar
menanti jawabannya, beberapa hari kemudian dengan hati berdebar namun penuh
kemantapan, ia pun kembali menemui usman dan menanyakan jawaban atas tawarannya
tersebut. “ telah aku putuskan kalau aku tidak akan menikah lagi”. Jawab usman
Ia tidak terlalu
kecewa terhadap terhadap penolakan usman bin affan, ia pun tidak patah semangat
untuk terus mencarikan hafsah suami yang shaleh, seorang ayah yang begitu
peduli terhadap kesucian dan kehormatan anaknya. Umar melanjutkan pencariannya,
ditemuilah Abu bakar As-siddiq, seorang sahabat yang tidak kalah keimanannya
dari usman bin affan. Umar pun mengutaran tujuan mulianya kepada Abu Bakar, “
Kalau anda mau dan bersedia, anda akan aku nikahkan dengan hafsah binti umar.”
Abu bakar terdiam
seribu bahasa, tanpa berkata apa-apa, walaupun sebercik keinginan untuk
menerima tawaran sahabatnya itu ada, dipendamnya dalam-dalam, disimpannya
rahasia hati itu sehingga tak ada yang tahu kecuali dia dan RabbNya.
Ya dengan sikap Abu
bakar itu menyulut api amarah kepadanya. Ia lebih suka dengan sikap usman yang
secara terus terang menolak tawarannya.
Ternyata perjuangan
sang ayah tidak sia-sia, allah memberikan manusia yang lebih baik dari Abu
Bakar dan Usman, itulah dia Rasulullah saw. Insan yang paling mulia diseluruh
alam raya, yang akhlanya adalah Al-qur’an. Beliau datang melamar hafsah, hati
umarpun tenang dan menkahkan hafsah dengan beliau.
Anda mungkin masih
penasaran, ada apa dibalik diamnya Abu Bakar, rahasia apa yang ia pendam.
Setelah pernikahan, Akhirnya abu bakar mendatangi Umar sambil berkata “Boleh
jadi ketika engkau ingin menikahkan hafsah denganku, sementara aku alpa akan
jawaban”.
“ Benar aku kecewa kepadamu,” tegas umar.
Abu bakar lalu
menjelaskan “aku sengaja tidak memberikan jawaban atas tawaran anda, karena aku
tahu rasulullah pernah menyebut nama Hafsah. Aku tidak mau membuka rahasia
rasulullah, seandainya rasulullah tidak bersedia menikahinya, niscaya aku
bersedia menerima tawaran anda itu.
Itulah kisah
perjuangan umar bin khattab untuk mencarikan pasangan ideal yang penuh dengan
penolakan, namun sekali lagi penolakan bukanlah akhir dari segalanya, namun
akan menjadi awal untuk menggapai kehidupan yangjauh lebih bahagia. Dan
terbukti bahwa ia mendapatkan menantu yang terbaik diseluruh dunia ini.