Minggu, 20 Oktober 2013



Sambutlah Indahnya pesona pada  pandangan pertama
Katakanlah (wahai Muhammad) kepada laki-laki yang beriman:
 “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara
 kemaluan mereka,yang demikian itu lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
” Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman:
“Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka
 dan memelihara kemaluan mereka”
 (Q.S. An-Nur [24]: 30-31)

Semua berawal dari pandangan pertama, seorang pengejar bidadari yang tertarik dengan wanita cantik bermata lentik, ia menatapnya dengan seulas senyuman yang tersimpul dari wajah tampannya, ada sebuncah kekaguman saat melihat gadis yang amat elok parasnya, mewarisi kecantikan wanita-wanita titisan kleopatra yang bertubuh semampai. Berkulit putih berhati lembut, bila tersenyum ada rona merah dikedua lesung pipitnya. Itulah yang membuat seorang pemuda tampan dari kufah jatuh hati kepadanya. Ketampanannya bagai Nabi Yusuf zaman ini. Akhlaknya begitu suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Ibadahnya kuat lagi taat Ketakwaannya telah berulang kali teruji. Seorang pengejar bidadari sejati. 
Pertemuannya bermula ketika ia berkunjung ke suatu kampung dari Bani An-Nakha'. Dilihatnya seorang wanita  berparas cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran pada pandangan pertama. Tak disangka dan tak diduga asmara cintanya bak dayung bersambut ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya langsung menaruh hati. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang meminangnya dari ayahnya. Tetapi si ayah mengabarkan dengan lembut dan sopan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Gelora cinta dan asmara begitu menggebu di antara keduanya.
Wanita yang dimabuk cinta itu akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk  pemuda tampan yang shaleh, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan dirimu. Bila engkau setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku'.
Itulah ungkaan cinta yang dilukis dengan tinta warna buram menghitam. Keindahan cinta yang terpancar telah ternodai oleh niat yang tidak sejalan. membelok dari jalan cinta rabbani. Namun, ada yang indah dari kisah ini. Tatkala mendengar tawaran dari gadis cantik yang sedang mabuk kepayang oleh cinta itu
 Dijawab oleh pemuda tadi melalui utusannya, 'Aku tidak setuju dengan dua pilihan yang engkau tawarkan, "sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar." (Yunus:15)
Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.'
Ketika disampaikan pesan tadi kepada wanita itu, dia berkata, "Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu." Wanita itu pun tersadar atas khilafnya dalam perjuangan cinta yang ia lakukan. Ia sadar dan bertobat. Ia mengabdikan dirinya pada Allah dan hanya beribadah semata. Memisahkan diri dari keluarganya. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan tidak mampu memadamkan kerinduannya pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan semakin kurus menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya.
Demikianpun pemuda itu hatinya masih tertawan rasa cinta kepadanya, hingga ia seringkali berziarah ke pemakamannya, ia masih dirundung duka, lelah menangis bercucuran air mata, ia mengadukan persoalannya kepada rabbnya dan mendo'akanya. Ia terlelap di atas kuburanya. Lalu bermimpi berjumpa sua dengan kekasihnya dengan rupa dan hiasan yang sangat baik, dan paras yang jauh lebih elok. Dalam mimpi dia sempat bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah kepergianmu menghadapNya?"
Dia menjawab, "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan."  Pemuda itu bertanya, "Jika demikian, kemanakah kau menuju?" Dia jawab, "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."
Pemuda itu berkata, "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu." Dia jawab, "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah."
Si pemuda bertanya, "Kapan aku bisa melihatmu?" Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Benar, tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggalkan dunia yang fana.
Begitulah cinta, kedatangnnya tak pernah terduga untuk bertamu disetiap hati si pemuda, ketika cinta mulai datang menggoda lewat pandangan pertama, ia tak mau berlama-lama mampir dalam kubangan lumpur dosa, disambutnya pesona itu dengan cara yang paling baik yaitu mengajak si bidadari yang telah menaruh hati kepadanya untuk membuat singgasana cinta dalam indahnya pernikahan. Walaupun akhirnya lelaki itu ditolak oleh sang ayah.
Bagi wanita yang sedang didera asmara, memperjuangkan cinta baginya adalah keputusan yang sulit. Di sana dibutuhkan keberanian yang berlipat-lipat dibandingkan dengan perjuangan cinta seorang lelaki. Ada adat, tradisi, dan karakter jiwa yang harus dilawan untuk mampu mengambil keputusan besar itu: memperjuangkan cinta. Rasa malu yang dimiliki wanita dalam urusan cinta sangatlah mendalam. Oleh karena itu, Rasulullah menjelaskan bahwa kemauan seorang perempuan akan pinangan seorang lelaki adalah dengan diamnya, dalam arti tidak menolak, tanpa perlu mengiyakan dengan rangkaian kata-kata. Namun, kekuatan cinta memang dahsyat dan menggerakkan.
Awal perjuangan cinta wanita itu tampak nyata tidak indah. Memang benar ia orang yang romantis dan memiliki daya khayal yang tinggi serta kemampuan merangkai kata yang indah. Namun, semuanya berbau aroma syaitan dan nafsu. Kesucian cinta yang seharusnya ada di dalam hatinya dan mengejawantah di dalam laku juangnya ternyata tergerus oleh badai hawa nafsu.
Ya, itulah cinta laksana air dalam kehidupan, nafas dalam jiwa, semangat dalam raga, lembut dalam sutera. Ia bagaikan panas pada api, dingin pada salju, luas pada angkasa.
Cinta adalah kekuatan yg mampu, mengubah duri jadi mawar, mengubah cuka jadi anggur, mengubah sedih jadi riang, mengubah amarah jadi ramah, mengubah musibah jadi muhibah.
Demikianlah yang terjadi pada wanita itu, melalui cintanya ia semakin mendekatkan diri kepada Allah, melalui cintanya ia menghiasi dirinya dengan keshalehan, lewat cintanya ia mulai mengenakan gaun ketakwaan.
Kepadamu ukhti yang kelak akan menjadi bidadari pendamping hidup kami menjadikan pesona yang menyapa sebagai batu loncatan untuk menggapai ridhoNya. Tunjukkan itu melalui sikapmu, tutur katamu,perilakumu, hiasilah dirimu dengan rasa malu kepada tuhanmu agar senantiasa terjaga kesucianmu.

Kekasih sejatimu adalah orang yang cemburu jika engkau berbuat salah
Berbicara lantang bila engkau berlaku tidak baik
Bergembira diseyiap engkau melakukan  setiap amal utama
Bersedih jika engkau mengurangi dan tak lagi melakukannya
(Abu usman at-tajibi)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar