Bila Cinta bertepuk sebelah tangan
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu,
dan boleh jadi kamu mencintai
sesuatu padahal itu jelek bagimu.
Sesungguhnya Allah maha mengetahui
dan kalian tidak mengetahui
Setiap orang
menginginkan cinta mereka bak gayung bersambut, pucuk dicinta ulam pun tiba.
Siapa yang mau membayangkan apalagi merasakan cinta yang bertepuk sebelah
tangan, terbayang rasa sakitnya penolakan, walau diucapkan dengan kata manis,
lembut dan sopan, tetap saja sayatannya mengiris kalbu. Apalagi kalau pujaan
hati sudah tertaut kelain hati, perih, pedih rasa ini.
Emang sakit rasanya
ditolak sama gadis pujaan hati, terlebih lagi cinta itu telah lama menggoda dan
hinggap dijiwa, telah lama bersemayam dan terpendam, telah lama berakar dan mekar
lalu bersemi indah didalam hati namun ketika diungkapkan tak kunjung pula didapati. Ironis memang, cinta tak
selamanya bisa memiliki.
Para pengejar bidadari, bila hal ini terjadi
padamu maka bercerminlah kepada para sahabat yang juga pernah mengalami
penolakan cinta suci mereka, namun mereka tak pernah merasa berkecil hati malah
menunjukkan kebesaran jiwa yang luar biasa.
Salah satunya kisah
cinta sahabat Rasulullah dari Persia, Salman Al Farisi. Dalam Jalan Cinta, Salim
A Fillah mengisahkan romansa cintanya. Salman Al Farisi memang sudah waktunya
menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi
shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai
kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan
menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun,
ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah
tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang
belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi
sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab
dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka
disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan
dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah.. wal
hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan
berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat
itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang
wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud
Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah
memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan
jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu
’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya
datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk
dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling
murni.
”Adalah kehormatan
bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang
mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat
Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada
puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang
puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas
keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara
mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan
mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman.
Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri
kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah.
Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih
tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis.
Namun hal itu memang indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah
perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati.
Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran;
bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Bayangkan
bagaimana rasa cinta yang terpendam ternyata bertepuk sebelah tangan. Lalu
bagaimana reaksi salma, apakah sakit hati, marah, lalu memutuskan tali
silaturrahmi diantara mereka.Mari kita simak ia bicara.
”Allahu Akbar!”,
seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan
pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Luar biasa mulia
hati sahabat yang satu ini, ia tahu betul cinta tak harus memiliki. Dan
sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman
mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang
berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar untuk
tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di
negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah.
Salman memiliki dua
pilihan antara Cinta dan Persaudaraan, namun ia telah membuktikan memilih
persaudaraan, karena Salman tahu betul persaudaraan memiliki cinta dan kasih
sayang, Ia tak kan menghempas ketenangan, ia juga tak bergemuruh memecah asa,
persaudaraan akan hadir bak hembusan angin yang membawa ketenangan dan
kedamaian. Saat cinta membakar qalbu yang diselimuti awan duka dalam tetes
bening yang membawa luka, ia bak rembulan yang menenangkan, bak air dalam
padang pasir yang melegakan, bak Oksigen dalam sesaknya Qalbu. Ya salman telah
memilihnya, sebelum Allah mendatangkannya saat ia mampu tuk merangkainya
menjadi indah dalam nuansa yang halal. Dalam ridha Allah Rabbul-Alamin.
Dan kita yang sering
merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang
sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan. Rasa memiliki seringkali
membawa kelalaian. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah
belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan
kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya.
Inilah pembuktian
cinta yang luar biasa yang menggetarkan hati orang yang mendengarnya,
kecintaannya kepada saudaranya yang seiman hanya semata karena Sang Pemiik
Cinta yang telah membuat para nabi dan syuhada cemburu padanya. Sungguh rasa manisnya
iman telah ia teguk, bukan hanya lewat perkataan namun langsung diaplikasikan
lewat perbuatan. Ia tidak dendam atau merasa dikhianati malah mereka saling
mengasihi
Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata
air-mata air yang mengalir. Dikatakan kepada mereka "Masuklah ke dalamnya dengan
sejahtera lagi aman". Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada
dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di
atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali
tidak akan dikeluarkan daripadanya. (QS. Al-hijir 9:9)
Para pejuang, bila
kita siap untuk bahagia, maka jauhlah lebih siap untuk menderita, jika tidak,
bila kita mengalami kegagalan dalam bercinta akan menjadikan kita frustasi
karena patah hati, defresi siap menghinggapi bahkan tidak jarang akan nekat
untuk bunuh diri, memilih mati bersama orang yang dicintai. Padahal cinta yang
bertepuk sebelah tangan bukanlah akhir dari kehidupan, masih banyak harapan di
masa depan yang mungkin jauh lebih baik dari yang diharapkan. Igatlah,
seindah-indah rencana yang kita buat, masih jauh lebih indah rencana yang Allah
buatkan untuk kita. Itulah yang selalu dibilang adikku kepadaku.
Ada hal
yang perlu kita pahami, setiap usaha pasti mengandung resiko ; sukses atau
gagal, janganlah mudah terpukau melihat rumput tetangga yang selalu terlihat
hijau, namun simaklah cerita pilu dibalik semua itu, bercerminlah pada
kehidupan para sahabat-sahabat nabi yang mulia, tirulah kesabarannya, teladani
setiap gerak kehidupannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar