Minggu, 20 Oktober 2013

Bila Cinta bertepuk sebelah tangan



Bila Cinta bertepuk sebelah tangan
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu,
 dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu jelek bagimu.
 Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan kalian tidak mengetahui
Setiap orang menginginkan cinta mereka bak gayung bersambut, pucuk dicinta ulam pun tiba. Siapa yang mau membayangkan apalagi merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan, terbayang rasa sakitnya penolakan, walau diucapkan dengan kata manis, lembut dan sopan, tetap saja sayatannya mengiris kalbu. Apalagi kalau pujaan hati sudah tertaut kelain hati, perih, pedih rasa ini.
Emang sakit rasanya ditolak sama gadis pujaan hati, terlebih lagi cinta itu telah lama menggoda dan hinggap dijiwa, telah lama bersemayam dan terpendam, telah lama berakar dan mekar lalu bersemi indah didalam hati namun ketika diungkapkan tak kunjung  pula didapati. Ironis memang, cinta tak selamanya bisa memiliki.
Para pengejar bidadari, bila hal ini terjadi padamu maka bercerminlah kepada para sahabat yang juga pernah mengalami penolakan cinta suci mereka, namun mereka tak pernah merasa berkecil hati malah menunjukkan kebesaran jiwa yang luar biasa.
Salah satunya kisah cinta sahabat Rasulullah dari Persia, Salman Al Farisi. Dalam Jalan Cinta, Salim A Fillah mengisahkan romansa cintanya. Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Namun hal itu memang indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Bayangkan bagaimana rasa cinta yang terpendam ternyata bertepuk sebelah tangan. Lalu bagaimana reaksi salma, apakah sakit hati, marah, lalu memutuskan tali silaturrahmi diantara mereka.Mari kita simak ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Luar biasa mulia hati sahabat yang satu ini, ia tahu betul cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah.
Salman memiliki dua pilihan antara Cinta dan Persaudaraan, namun ia telah membuktikan memilih persaudaraan, karena Salman tahu betul persaudaraan memiliki cinta dan kasih sayang, Ia tak kan menghempas ketenangan, ia juga tak bergemuruh memecah asa, persaudaraan akan hadir bak hembusan angin yang membawa ketenangan dan kedamaian. Saat cinta membakar qalbu yang diselimuti awan duka dalam tetes bening yang membawa luka, ia bak rembulan yang menenangkan, bak air dalam padang pasir yang melegakan, bak Oksigen dalam sesaknya Qalbu. Ya salman telah memilihnya, sebelum Allah mendatangkannya saat ia mampu tuk merangkainya menjadi indah dalam nuansa yang halal. Dalam ridha Allah Rabbul-Alamin. 
Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah. Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya.
Inilah pembuktian cinta yang luar biasa yang menggetarkan hati orang yang mendengarnya, kecintaannya kepada saudaranya yang seiman hanya semata karena Sang Pemiik Cinta yang telah membuat para nabi dan syuhada cemburu padanya. Sungguh rasa manisnya iman telah ia teguk, bukan hanya lewat perkataan namun langsung diaplikasikan lewat perbuatan. Ia tidak dendam atau merasa dikhianati malah mereka saling mengasihi
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air yang mengalir. Dikatakan kepada mereka "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman". Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya. (QS. Al-hijir  9:9)
Para pejuang, bila kita siap untuk bahagia, maka jauhlah lebih siap untuk menderita, jika tidak, bila kita mengalami kegagalan dalam bercinta akan menjadikan kita frustasi karena patah hati, defresi siap menghinggapi bahkan tidak jarang akan nekat untuk bunuh diri, memilih mati bersama orang yang dicintai. Padahal cinta yang bertepuk sebelah tangan bukanlah akhir dari kehidupan, masih banyak harapan di masa depan yang mungkin jauh lebih baik dari yang diharapkan. Igatlah, seindah-indah rencana yang kita buat, masih jauh lebih indah rencana yang Allah buatkan untuk kita. Itulah yang selalu dibilang adikku kepadaku.
Ada hal yang perlu kita pahami, setiap usaha pasti mengandung resiko ; sukses atau gagal, janganlah mudah terpukau melihat rumput tetangga yang selalu terlihat hijau, namun simaklah cerita pilu dibalik semua itu, bercerminlah pada kehidupan para sahabat-sahabat nabi yang mulia, tirulah kesabarannya, teladani setiap gerak kehidupannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar