Ya Tuhan kami, angrahkanlah kepada kami,
istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk
hati,
dan jadikanlah
kami imam bagi orang-orang yangbertakwa
(QS. Al-Furqan: 75)
Alangkah sejuk dipandang mata wajah
mungil yang lemah terlelap dalam dekapan bunda yang penuh cinta dan kasih
sayang, menikmati lembutnya nafas di atas buaian, fitrah wanita untuk
melindungi buah hatinya, mendatangkan rasa aman dari segala macam gangguan,
membuat rasa nyaman dalam setiap sentuhan.
Teringat
masa dimana benih cinta suci kedua orang tua kita dipersatukan dalam ikatan yang
sakral. Hingga Allah Subhaanahu wata'ala pula yang telah menciptakan dan menumbuhkembangkan
benih suci dari buah kasih itu bersama hujan cinta-Nya. Menjaga serta merawat
dari detik ke detik dalam pelukan rahim kasih sayang. Lalu waktu pun terus
berlalu sampai tiba sebuah hari saat semua orang di sekeliling berharap-harap
cemas saat menantikan kehadiran bayi mungil yang begitu lemah. Isak tangis yang
memilukan hati membuat semua yang mendengar ikut meneteskan air mata rasa haru sekaligus
bahagia, ya, itulah kita saudaraku buah hati yang telah lama dinantikan orang
tua sebagai amanat dari Allah swt.
Ah...
masa-masa yang indah itu terlalu cepat berlalu. Dan usia terus saja mengambil
jatahnya. Hingga ketika hari telah berganti minggu, dan bulan pun menapak tahun,
pesona keremajaan mulai memanggil lembut, sudah tiba waktunya aku harus bersua
jumpa, menjemput kehidupan milikku sendiri, tiba saatnya menuju kehidupan baru di luar sana. Ia datang
secara tak terduga, tanpa ada surat pemberitahuan sebelumnya.
Maka dari itu ku ajak ia untuk ta’arufan agar diri ini
semakin tahu siapa sebenarnya ia. Agar lebih mudah ku menjamunya dengan
perbendaharaan bekal yang tersedia. Katanya ia begitu indah dan mempesona, ya
itulah dia masa-masa remaja, benarkah itu, mari kita simak lebih lanjut dalam pembahasan
berikutnya.
Ta’arufan, Kudu banget!
Tak
kenal maka ta’aruf, kata seorang ikhwan yang sedang buka kajian
dalam sebuah forum. Sejenak saya termenung untuk mencerna kata-kata yang
diungkapkannya itu, ku jajaki dalam pikiran sehingga ku dapat kesyaratan akan makna,
ya ta’aruf terhadap masa yang menawarkan segenap kegenitan serta gemerlapnya
yang menggoda. Masa yang penuh dengan ujian dan lika-liku kehidupan. Sehingga
tak bosan ku dengar ustadz baharudin saat menyenandungkannya dalam sebuah syair
:
Masa-masa remaja masa penuh dengan memori
Awal pandangan yang tembus
sampai ke relung hati
Awal sentuhan yang
menggetarkan seluruh tulang ali
Awal sapaan yang
menghembuskan angin ketenangan
Getaran yang mengobarkan
api kemaksiatan
Remaja...!!! masa mudamu
hanya sekali
Jangan sia-siakan hari
dalam kegelapan.
Dalem,,,
kata teman-teman yang membaca sya’ir yang telah saya bagikan dalam risalah
Manajemen Cinta Remanda itu, memang masa remaja adalah masa yang penuh dengan
kenangan-kenangan yang tak terlupakan ada saja kreatifitas-kreatifitas baru
yang dilakukan namun tidak jarang yang terlalu terbuai dengan fatamorgana
keremajaan yang menyia-nyiakan, kenangannya pun masih teringat dibenak aki-aki
yang sudah lemah tak berdaya. Manis, asem, asin, rame rasanya, kata sebuah
iklan di TV, seperti itulah gambaran yang menghiasi masa-masa remaja bahkan
pahit pun ada rasanya.
Makanya
ta’arufan tu kudu banget untuk mengenal lebih dalam siapa dia, dimana tempatnya,
apa kesukaannya, agar salah pilah dan pilih atau tidak salah alamat kayak ayu
ting-ting. Hohoho ini ta’arufan ama
siapa sih?? Hehe maaf lagi ngigau, tujuan
sebenarnya tiada lain tiada bukan hanya ingin untuk membawamu kepada jalan
cahaya yang telah disediakanNya. Menghadapi hari depan yang yang masih
samar-samar. Sebagai kekuatan untuk menyongsong hari esok yang jelas belum bisa dibayangkan. Ya intinya kesuksesan dalam mengarungi lautan
keremajaan. Supaya anda tidak salah mendaratkan bahtera yang anda gunakan untuk
berlayar kedaratan tujuan.
Lho and Gue
Lho and
Gue, Remaja dan cinta, ya dua hal yang berdeda namun saling mengisi satu sama
lainnya, remaja tanpa cinta memang hambar rasanya, tidak ada yang mewarnai
suasana kehidupan, tidak ada yang ikut meramaikan rasa hati ini. Manis, acem,
acinnya tak bisa kita jumpai..hihihi. Begitu pula cinta bila tak hadir dalam
kehidupan remaja aneh rasanya, cinta itu mungkin tidak sefenomenal saat hinggap
di usia remaja. Bisa kita bayangkan jika cinta hadir pada usia tua dengan kulit
yang keriput muka ketekuk, aki-aki dan nini-nini lagi falling in love
nggak ada yang tertarik untuk membahas cinta itu bila tidak dimulai dari usia
remaja, artinya cinta mereka tidak seindah cintanya para remaja.
Beda
halnya jika anak ABG yang sedang jatuh cinta, begitu hangat untuk diperbincangkan,
begitu nikmat untuk dibahas, walaupun ceritanya itu-itu saja namun remaja
dengan segala macam keunikannya mampu melahirkan kreatifitas cerita cinta yang
berbeda sehingga tak akan ada rasa bosan, jenuh terhadap apa yang disebut
dengan cinta, ada yang cintanya suci hanya mengharap ridho ilahi, ada yang
cintanya samar-samar mengatas namakan cinta diatas dakwah, karena saling
memahami batasan-batasan syariat katanya, ada yang menganut cinta palsu, cinta
monyet, ada juga yang menganut cinta binal gaya setan.Itulah cinta yang
berkembang biak dan tumbuh subur dikalangan para remaja.
Saking
menariknya kehidupan remaja banyak dari kalangan psikolog yang memperdalam
kehidupan remaja itu sendiri, berbagai macam pendapat yang keluar melalui
penjelajahan intelektual mereka, namun masih saja ada hal-hal yang inovatif
dilakukannya dalam hal yang satu ini. Para psikologi sepakat bahwa usia remaja adalah
usia yang labil. Dengan kelabilannya mereka mampu menumbuh kembangkan
karakter-karakter unik dalam diri mereka. Sehingga dapat tumbuh, berakar dan
mekar atau bahkan menjamur menjadi kurap keperibadian yang sulit untuk
dilenyapkan, kata ustadz Salim A. Fillah dalam buku NPSPnya. Ada pula yang berpendapat
bahwa remaja merupakan masa strum and drag, dimana pada masa ini mereka berada
dalam dua situasi; antara kegoncangan, penderitaan, asmara, dan pemberontakan
dengan otoritas orang dewasa. sehingga kehidupan remaja penuh dengan pancaroba.
Bagi
remaja cinta bisa menyapa tak kenal waktu dan tempat, ada yang dirumah, dikelas,
ada di sekolah, sama tetangga, di facebook atau jejaring sosial lainnya, dalam
suatu organisasi, dimasjid aduh kok si cinta ada dimana-mana ya!!! Help me
cintanya ngejer gue terus kata seorang cewek yang terus ditembak ma teman
sekelasnya. Saat ditanya, kenapa sie kamu terus nolak aku? Jawabnya santai sok
cute mengatakan ibu belum ngizinin aku pacaran. Dan bla bla bla begitulah
seterusnya.
Ada juga
temen-temen ikwan yang langsung menyergap si papa yang bijaksana dengan
pertanyaan “yah, boleh gak aku pacaran? Ketika merasakan ada getaran-getaran
cinta yang datang menggoda, saat ketertarikan mulai hinggap. Saat itulah akan
muncul aneka pertanyaan tentang si dia, makanya dibutuhkan orang tua yang mampu
memberikan jawaban atas pertanyaannya dengan bijaksana, cerdas, memuaskan dan
tepat bukan dengan nada marah- marah, ngomel atau bahkan mengacuhkannya.
Bener tu
pa, sebagai Ayah yang baik, sebaikya menyiapkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan
tak terduga semacam itu sejak jauh hari sebelumnya. Namun tidak sedikit yang
belum siap dengan jawaban ketika pertanyaan tadi terlontar. Seorang ayah
mempunyai posisi strategis. ayah tidak saja menjadi pemimpin bagi keluarganya,
seorang ayah juga seharusnya bisa menjadi teman bagi anak-anaknya, menjadi
narasumber dan guru bagi anak-anaknya.
'Tiada
pemberian seorang bapak terhadap anak-anaknya yang lebih baik dari pada
(tarbiyah) yang baik dan adab yang mulia.' (HR At-Tirmidzy)
'Barangsiapa
yang mengabaikan tarbiyah anak, maka ia telah berbuat dzalim secara
terang-terangan ...' Ibnu Qayyim.
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kamu adalah pemimpin,
dan setiap kamu akan dimintai pertangungjawaban terhadap apa yang kamu pimpin.
Seorang suami (ayah) adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan ia akan
dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas
mereka." (HR Muslim).
Ya ada
sebuah nasihat dari ayah seorang ikhwan yang cukup menarik untuk menjawab pertanyaan
diatas, sang bapak yang memang sudah sejak lama mempersiapkan diri, dengan
santai memberikan jawaban seperti ini: 'Boleh nak, sejauh berpacaran yang
dimaksud adalah sebagaimana yang terjadi antara Ayah dan Bunda' . Ananda sayang,
berpacaran itu ketika engkau menjalin tali kasih sayang, menjalin cinta, dengan
lawan jenis, untuk saling kenal-mengenal, untuk sama-sama memahami kebesaran
Allah di balik tumbuhnya rasa kasih dan sayang itu. Dan itu ibadah,nak!. Sebagai
ibadah, berpacaran haruslah dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah dalam
ikatan suci mahligai pernikahan.
Di dalam
sebuah Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: 'Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian
dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya.' 'Di
luar ketentuan tadi, maka yang sesungguhnya terjadi adalah perbuatan mendekati
zina, suatu perbuatan keji dan terkutuk yang diharamkan ajaran Islam (Qs.
17:32).
Sepakat Allah SWT telah mengharamkan zina dan hal-hal
yang bertendensi ke arah itu, termasuk berupa kata-kata yang merangsang, berupa
perbuatan-perbuatan tertentu seperti membelai dan sebagainya.' Demikian
penjelasan sang ayah kepada anak remajanya.
"di
dalam lembaga pernikahan, ananda bisa berpacaran dengan bebas dan tenang, bisa
saling memembelai dan mengasihi, kau dapat membelai jemari lentiknya, malah itu
menggugurkan dosa, mengecup keningnya yang harum bahkan lebih jauh dari itu,
yang semula haram menjadi halal setelah menikah, sebuah lembaga yang mampu
membuat apa yang sebeumnya dosa menjadi pahala, yang semula diharamkan
tiba-tiba menjadi hak bagi suami atau istri yang apabila ditunaikan dengan
ikhlas kepada allah akan mendatangkan pahala dan bernilai ibadah."
demikian penjelasannya lanjut.
"namun
jangan lupa," sambungnya, "islam mengajarkan dua hal yaitu memenuhi
hak dan kewajiban secara seimbang. di dalam lembaga perkawinan, kita tidak saja
bisa mendapatkan hak-hak kita sebagai suami atau isteri, namun juga dituntut
untuk memenuhi kewajiban, menafkahi dengan layak, memberi tempat bernaung yang
layak, dan yang terpenting adalah memberi pendidikan yang layak bagi anak-anak
kelak ..."
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seorang yang membina anaknya
adalah lebih baik daripada ia bersedekah satu sha' ... (HR At-Tirmidzy).
"Nah,
apabila ananda sudah merasa mampu memenuhi kedua hal tadi, menyeimbangkan hak
dan kewajiban, maka segeralah susun sebuah rencana berpacaran yang baik di
dalam sebuah lembaga pernikahan yang dicontohkan Rasulullah..." Demikian
imbuh sang ayah.
Ya,
kalaulah kemampuan itu belum ada, namun niat suci dan keinginan yang kuat untuk
merajutnya haruslah tetap ada, itu berarti kita masih mencintai sunnah rasul
yang mulia.
Jagalah
terus keindahanmu, jangan kau nodai dengan bercak-bercak hitam yang sulit untuk
dibersihkan, ingatlah tidak ada namanya setitik noda bila kita terus menerus
untuk membuat titik disekitarnya, dan tidak ada namanya noda besar apa bila
kita langsung membersihkannya. Itulah ibarat dosa kecil yang kita tumpuk secara
terus menerus sehingga kita pun terbiasa untuk tetap menyelam dalam kubangan
lumpur itu, namun tidak ada namanya dosa yang besar apabila kita langsung
bertaubat kepada Allah swt.
Untukmu
yang berjiwa muda hiasilah dirimu dengan kekuatan iman, selimuti ia dengan
takwa, terusah jaga keindahan diri, walaupun dia datang menghampiri, dengan
seribu satu macam godaan yang dengannya kita diuji. Sambutah ia dengan tarhiban
haaran sebuah sambutan hangat dengan senyuman termanis dan yang paling
tulus yang dipancarkan cahaya keimanan, buat ia merasa bangga untuk singgah di bungallow
hatimu. Biarkan ia merasa nyaman,
aman, tentram, tenang damai sentosa agar ia tumbuh menjadi cinta yang berbuah
syurga.
Keren Akhi, lanjutkan.
BalasHapusInsya Allah Akh.... seperti status yang kemarim.... satu jam berkarya
BalasHapus