Sabtu, 19 Oktober 2013

Ketika Benih-Benih Cinta Suci Mulai Tumbuh



Ya Tuhan kami, angrahkanlah kepada kami,
istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati,
 dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yangbertakwa
(QS. Al-Furqan: 75)
            Alangkah sejuk dipandang mata wajah mungil yang lemah terlelap dalam dekapan bunda yang penuh cinta dan kasih sayang, menikmati lembutnya nafas di atas buaian, fitrah wanita untuk melindungi buah hatinya, mendatangkan rasa aman dari segala macam gangguan, membuat rasa nyaman dalam setiap sentuhan.
Teringat masa dimana benih cinta suci kedua orang tua kita dipersatukan dalam ikatan yang sakral. Hingga Allah Subhaanahu wata'ala pula yang telah menciptakan dan menumbuhkembangkan benih suci dari buah kasih itu bersama hujan cinta-Nya. Menjaga serta merawat dari detik ke detik dalam pelukan rahim kasih sayang. Lalu waktu pun terus berlalu sampai tiba sebuah hari saat semua orang di sekeliling berharap-harap cemas saat menantikan kehadiran bayi mungil yang begitu lemah. Isak tangis yang memilukan hati membuat semua yang mendengar ikut meneteskan air mata rasa haru sekaligus bahagia, ya, itulah kita saudaraku buah hati yang telah lama dinantikan orang tua sebagai amanat dari Allah swt.
Ah... masa-masa yang indah itu terlalu cepat berlalu. Dan usia terus saja mengambil jatahnya. Hingga ketika hari telah berganti minggu, dan bulan pun menapak tahun, pesona keremajaan mulai memanggil lembut, sudah tiba waktunya aku harus bersua jumpa, menjemput kehidupan milikku sendiri, tiba saatnya  menuju kehidupan baru di luar sana. Ia datang secara tak terduga, tanpa ada surat pemberitahuan sebelumnya.
Maka dari itu ku ajak ia untuk ta’arufan agar diri ini semakin tahu siapa sebenarnya ia. Agar lebih mudah ku menjamunya dengan perbendaharaan bekal yang tersedia. Katanya ia begitu indah dan mempesona, ya itulah dia masa-masa remaja, benarkah itu, mari kita simak lebih lanjut dalam pembahasan berikutnya.

Ta’arufan, Kudu banget!
Tak kenal maka ta’aruf, kata seorang ikhwan yang sedang buka kajian dalam sebuah forum. Sejenak saya termenung untuk mencerna kata-kata yang diungkapkannya itu, ku jajaki dalam pikiran sehingga ku dapat kesyaratan akan makna, ya ta’aruf terhadap masa yang menawarkan segenap kegenitan serta gemerlapnya yang menggoda. Masa yang penuh dengan ujian dan lika-liku kehidupan. Sehingga tak bosan ku dengar ustadz baharudin saat menyenandungkannya dalam sebuah syair :
Masa-masa remaja masa  penuh dengan memori
Awal pandangan yang tembus sampai ke relung hati
Awal sentuhan yang menggetarkan seluruh tulang ali
Awal sapaan yang menghembuskan angin ketenangan
Getaran yang mengobarkan api kemaksiatan
Remaja...!!! masa mudamu hanya sekali
Jangan sia-siakan hari dalam kegelapan.
Dalem,,, kata teman-teman yang membaca sya’ir yang telah saya bagikan dalam risalah Manajemen Cinta Remanda itu, memang masa remaja adalah masa yang penuh dengan kenangan-kenangan yang tak terlupakan ada saja kreatifitas-kreatifitas baru yang dilakukan namun tidak jarang yang terlalu terbuai dengan fatamorgana keremajaan yang menyia-nyiakan, kenangannya pun masih teringat dibenak aki-aki yang sudah lemah tak berdaya. Manis, asem, asin, rame rasanya, kata sebuah iklan di TV, seperti itulah gambaran yang menghiasi masa-masa remaja bahkan pahit pun ada rasanya.
Makanya ta’arufan tu kudu banget untuk mengenal lebih dalam siapa dia, dimana tempatnya, apa kesukaannya, agar salah pilah dan pilih atau tidak salah alamat kayak ayu ting-ting. Hohoho ini ta’arufan  ama siapa sih?? Hehe maaf lagi ngigau,  tujuan sebenarnya tiada lain tiada bukan hanya ingin untuk membawamu kepada jalan cahaya yang telah disediakanNya. Menghadapi hari depan yang yang masih samar-samar. Sebagai kekuatan untuk menyongsong hari esok  yang jelas belum bisa dibayangkan.  Ya intinya kesuksesan dalam mengarungi lautan keremajaan. Supaya anda tidak salah mendaratkan bahtera yang anda gunakan untuk berlayar kedaratan tujuan.  


Lho and Gue
Lho and Gue, Remaja dan cinta, ya dua hal yang berdeda namun saling mengisi satu sama lainnya, remaja tanpa cinta memang hambar rasanya, tidak ada yang mewarnai suasana kehidupan, tidak ada yang ikut meramaikan rasa hati ini. Manis, acem, acinnya tak bisa kita jumpai..hihihi. Begitu pula cinta bila tak hadir dalam kehidupan remaja aneh rasanya, cinta itu mungkin tidak sefenomenal saat hinggap di usia remaja. Bisa kita bayangkan jika cinta hadir pada usia tua dengan kulit yang keriput muka ketekuk, aki-aki dan nini-nini lagi falling in love nggak ada yang tertarik untuk membahas cinta itu bila tidak dimulai dari usia remaja, artinya cinta mereka tidak seindah cintanya para remaja.
Beda halnya jika anak ABG yang sedang jatuh cinta, begitu hangat untuk diperbincangkan, begitu nikmat untuk dibahas, walaupun ceritanya itu-itu saja namun remaja dengan segala macam keunikannya mampu melahirkan kreatifitas cerita cinta yang berbeda sehingga tak akan ada rasa bosan, jenuh terhadap apa yang disebut dengan cinta, ada yang cintanya suci hanya mengharap ridho ilahi, ada yang cintanya samar-samar mengatas namakan cinta diatas dakwah, karena saling memahami batasan-batasan syariat katanya, ada yang menganut cinta palsu, cinta monyet, ada juga yang menganut cinta binal gaya setan.Itulah cinta yang berkembang biak dan tumbuh subur dikalangan para remaja.
Saking menariknya kehidupan remaja banyak dari kalangan psikolog yang memperdalam kehidupan remaja itu sendiri, berbagai macam pendapat yang keluar melalui penjelajahan intelektual mereka, namun masih saja ada hal-hal yang inovatif dilakukannya dalam hal yang satu ini. Para psikologi sepakat bahwa usia remaja adalah usia yang labil. Dengan kelabilannya mereka mampu menumbuh kembangkan karakter-karakter unik dalam diri mereka. Sehingga dapat tumbuh, berakar dan mekar atau bahkan menjamur menjadi kurap keperibadian yang sulit untuk dilenyapkan, kata ustadz Salim A. Fillah dalam buku NPSPnya. Ada pula yang berpendapat bahwa remaja merupakan masa strum and drag, dimana pada masa ini mereka berada dalam dua situasi; antara kegoncangan, penderitaan, asmara, dan pemberontakan dengan otoritas orang dewasa. sehingga kehidupan remaja penuh dengan pancaroba.
Bagi remaja cinta bisa menyapa tak kenal waktu dan tempat, ada yang dirumah, dikelas, ada di sekolah, sama tetangga, di facebook atau jejaring sosial lainnya, dalam suatu organisasi, dimasjid aduh kok si cinta ada dimana-mana ya!!! Help me cintanya ngejer gue terus kata seorang cewek yang terus ditembak ma teman sekelasnya. Saat ditanya, kenapa sie kamu terus nolak aku? Jawabnya santai sok cute mengatakan ibu belum ngizinin aku pacaran. Dan bla bla bla begitulah seterusnya.
Ada juga temen-temen ikwan yang langsung menyergap si papa yang bijaksana dengan pertanyaan “yah, boleh gak aku pacaran? Ketika merasakan ada getaran-getaran cinta yang datang menggoda, saat ketertarikan mulai hinggap. Saat itulah akan muncul aneka pertanyaan tentang si dia, makanya dibutuhkan orang tua yang mampu memberikan jawaban atas pertanyaannya dengan bijaksana, cerdas, memuaskan dan tepat bukan dengan nada marah- marah, ngomel atau bahkan mengacuhkannya.
Bener tu pa, sebagai Ayah yang baik, sebaikya menyiapkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tak terduga semacam itu sejak jauh hari sebelumnya. Namun tidak sedikit yang belum siap dengan jawaban ketika pertanyaan tadi terlontar. Seorang ayah mempunyai posisi strategis. ayah tidak saja menjadi pemimpin bagi keluarganya, seorang ayah juga seharusnya bisa menjadi teman bagi anak-anaknya, menjadi narasumber dan guru bagi anak-anaknya.
'Tiada pemberian seorang bapak terhadap anak-anaknya yang lebih baik dari pada (tarbiyah) yang baik dan adab yang mulia.' (HR At-Tirmidzy)
'Barangsiapa yang mengabaikan tarbiyah anak, maka ia telah berbuat dzalim secara terang-terangan ...' Ibnu Qayyim.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertangungjawaban terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang suami (ayah) adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas mereka." (HR Muslim).
Ya ada sebuah nasihat dari ayah seorang ikhwan yang cukup menarik untuk menjawab pertanyaan diatas, sang bapak yang memang sudah sejak lama mempersiapkan diri, dengan santai memberikan jawaban seperti ini: 'Boleh nak, sejauh berpacaran yang dimaksud adalah sebagaimana yang terjadi antara Ayah dan Bunda' . Ananda sayang, berpacaran itu ketika engkau menjalin tali kasih sayang, menjalin cinta, dengan lawan jenis, untuk saling kenal-mengenal, untuk sama-sama memahami kebesaran Allah di balik tumbuhnya rasa kasih dan sayang itu. Dan itu ibadah,nak!. Sebagai ibadah, berpacaran haruslah dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah dalam ikatan suci mahligai pernikahan.
Di dalam sebuah Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya.' 'Di luar ketentuan tadi, maka yang sesungguhnya terjadi adalah perbuatan mendekati zina, suatu perbuatan keji dan terkutuk yang diharamkan ajaran Islam (Qs. 17:32).
Sepakat  Allah SWT telah mengharamkan zina dan hal-hal yang bertendensi ke arah itu, termasuk berupa kata-kata yang merangsang, berupa perbuatan-perbuatan tertentu seperti membelai dan sebagainya.' Demikian penjelasan sang ayah kepada anak remajanya.
"di dalam lembaga pernikahan, ananda bisa berpacaran dengan bebas dan tenang, bisa saling memembelai dan mengasihi, kau dapat membelai jemari lentiknya, malah itu menggugurkan dosa, mengecup keningnya yang harum bahkan lebih jauh dari itu, yang semula haram menjadi halal setelah menikah, sebuah lembaga yang mampu membuat apa yang sebeumnya dosa menjadi pahala, yang semula diharamkan tiba-tiba menjadi hak bagi suami atau istri yang apabila ditunaikan dengan ikhlas kepada allah akan mendatangkan pahala dan bernilai ibadah." demikian penjelasannya lanjut.
"namun jangan lupa," sambungnya, "islam mengajarkan dua hal yaitu memenuhi hak dan kewajiban secara seimbang. di dalam lembaga perkawinan, kita tidak saja bisa mendapatkan hak-hak kita sebagai suami atau isteri, namun juga dituntut untuk memenuhi kewajiban, menafkahi dengan layak, memberi tempat bernaung yang layak, dan yang terpenting adalah memberi pendidikan yang layak bagi anak-anak kelak ..."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seorang yang membina anaknya adalah lebih baik daripada ia bersedekah satu sha' ... (HR At-Tirmidzy).
"Nah, apabila ananda sudah merasa mampu memenuhi kedua hal tadi, menyeimbangkan hak dan kewajiban, maka segeralah susun sebuah rencana berpacaran yang baik di dalam sebuah lembaga pernikahan yang dicontohkan Rasulullah..." Demikian imbuh sang ayah.
Ya, kalaulah kemampuan itu belum ada, namun niat suci dan keinginan yang kuat untuk merajutnya haruslah tetap ada, itu berarti kita masih mencintai sunnah rasul yang mulia.
Jagalah terus keindahanmu, jangan kau nodai dengan bercak-bercak hitam yang sulit untuk dibersihkan, ingatlah tidak ada namanya setitik noda bila kita terus menerus untuk membuat titik disekitarnya, dan tidak ada namanya noda besar apa bila kita langsung membersihkannya. Itulah ibarat dosa kecil yang kita tumpuk secara terus menerus sehingga kita pun terbiasa untuk tetap menyelam dalam kubangan lumpur itu, namun tidak ada namanya dosa yang besar apabila kita langsung bertaubat kepada Allah swt.  
Untukmu yang berjiwa muda hiasilah dirimu dengan kekuatan iman, selimuti ia dengan takwa, terusah jaga keindahan diri, walaupun dia datang menghampiri, dengan seribu satu macam godaan yang dengannya kita diuji. Sambutah ia dengan tarhiban haaran sebuah sambutan hangat dengan senyuman termanis dan yang paling tulus yang dipancarkan cahaya keimanan, buat ia merasa bangga untuk singgah di bungallow  hatimu. Biarkan ia merasa nyaman, aman, tentram, tenang damai sentosa agar ia tumbuh menjadi cinta yang berbuah syurga.

2 komentar: